Pembuatan Tawas Aluminium

By: dwioktavia

Apr 14 2011

Category: Uncategorized

Leave a comment

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata alumen pertama kali dinyatakan oleh Pliny dalam bukunya yang berjudul “Natural History”. Buku ini merupakan Jilid ke-35 dan tepatnya dalam bab 15 ia memberikan penjelasan bahwa alumen ditemukan secara alami di bumi.  Ia beranggapan bahwa alumen merupakan salah satu jenis obat-obatan dan berfungsi dalam proses perubahan warna suatu zat.  Anggapannya ini muncul ketika melihat fakta bahwa ketika ada sumber air yang tercemar kemudian diberikan alumen, maka air akan berubah warna yang tadinya hitam menjadi berkurang kadar kekotorannya.  Sifat yang dimiliki alumen ini kemudian menjadi solusi untuk pencemaran besi sulfat dalam air.  Namun, Pliny menganggap bahwa larutan (kalium) tawas biasa tidak memiliki sifat ini melainkan senyawa yang memiliki sifat koagulan tersebut adalah spesies sulfat dari besi dan aluminium.

Alumen zaman dahulu berbeda dengan zaman modern seperti sekarang ini.  Dahulu, mereka tentu tahu bagaimana untuk menghasilkan alum dari nontronit.  Alumen asli dari Melos tampaknya telah tercampur oleh spesies alunogen              (Al2(SO4)3.17 H2O) dengan tawas dan sulfat kecil lainnya.  Gurun barat Mesir adalah sumber utama pengganti tawas di zaman kuno.  Berbagai mineral nontronit yang digunakan dalam pembuatan tawas adalah tawas sekis , bauksit dan cryolite.

Pada abad ke-18, JH Pott dan Andreas Sigismund Marggraf menunjukkan bahwa alumina adalah konstituen. Pott dalam bukunya Lithogeognosia menunjukkan bahwa endapan diperoleh ketika alkali dituangkan ke dalam larutan tawas, dan endapan yang dihasilkan ternyata sangat berbeda dengan endapan kapur.  Ia juga menunjukkan bahwa kristal alum dapat diperoleh dengan melarutkan alumina dalam asam sulfat dan penguapan, dan ketika suatu larutan kalium atau amonia diteteskan ke dalam cairan ini, segera terbentuk kristal tawas.

Torbern Bergman juga mengamati bahwa penambahan kalium atau amonia membuat larutan alumina dalam asam sulfat mengkristal, tetapi bahwa efek yang sama tidak terjadi ketika dilakukan penambahan soda atau larutan kapur.  Selain itu, bahwa kalium sulfat sering ditemukan dalam tawas.

Setelah MH Klaproth menemukan adanya kalium dalam leucite dan lepidolite , terpikir oleh LN Vauquelin bahwa Kalium mungkin merupakan bahan juga di banyak mineral . Mengetahui bahwa alum tidak dapat diperoleh dalam kristal tanpa penambahan kalium , ia mulai curiga bahwa alkali ini merupakan unsur penting dalam garam, dan pada 1797 ia menerbitkan suatu analisis disertasi produk tawas yang merupakan garam ganda , terdiri dari asam sulfat, alumina , dan kalium. Segera setelah itu, JA Chaptal menerbitkan analisis dari empat jenis tawas, yaitu Romawi tawas, Levant tawas, tawas Inggris dan tawas diproduksi oleh dirinya sendiri. Analisis ini menyebabkan hasil yang sama seperti Vauquelin.

Mesir dilaporkan menggunakan koagulan alum sejak 1500 SM untuk mengurangi kekeruhan di dalam air.  Alum banyak diimpor ke Inggris terutama dari Timur Tengah dan negara-negara Kepausan selama ratusan tahun mulai dari akhir abad ke 15.  Salah satu aplikasinya digunakan sebagai pewarna untuk wol (yang merupakan salah satu industri yang utama Inggris).  Namun, setelah lengsernya jabatan Raja Henry VIII, pasokan alum dari negara Kepausan terhenti.  Sehingga timbul dorongan untuk mengembangkan sumber di Inggris.  Dengan pembiayaan negara, upaya dilakukan sepanjang abad ke-16, namun tidak berhasil sampai pada awal abad ke-17. Sebuah industri didirikan oleh Yorkshire untuk proses serpih yang mengandung bahan utama, aluminium sulfat , dan membuat kontribusi penting bagi Revolusi Industri. Salah satu situs bersejarah tertua untuk produksi alum adalah karya alum Peak di Ravenscar , North Yorkshire.

Tawas (dikenal sebagai turti / sphatika dalam bahasa Indian setempat) juga digunakan untuk pengolahan air oleh orang India selama ribuan tahun. Ayurveda menggambarkan sphatika sebagai antiseptik zat, haemostatic.  Ia memiliki sifat anti-inflamasi, anti-piretik dan antibiotik. Menggunakan Sphatika dalam mengobati tonsilitis telah disebut dalam teks-teks kuno Ayurvedic. Sphatika digunakan secara internal maupun eksternal.

Dengan produksi di seluruh dunia 2,9 juta ton pada tahun 1982, aluminium sulfat adalah senyawa aluminium terpenting setelah aluminium oksida dan hidroksida.  Senyawa ini sudah tercakup dalam Non-Ferrous Metals Bref. Para produsen yang paling penting adalah Amerika Serikat (dengan 1,1 juta ton pada tahun 1984 atas dasar 17% Al2O), Eropa Barat (dengan 0,9 juta ton per tahun) dan Jepang (dengan 0,8 juta ton per tahun atas dasar 14% Al2O3). Aluminium sulfat juga merupakan bahan awal untuk senyawa aluminium lainnya. Produk komersial adalah salah satu garam padat terhidrasi, dengan rumus kimia Al2(SO4)3. 13 sampai 15 H2O.  Produk ini dikirim dalam bentuk serpih, bubuk atau balok.  Di Eropa, bagian terbesar dari aluminium sulfat dihasilkan oleh reaksi asam sulfat dengan aluminium hidroksida basah atau kering.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Bagaimanakah proses pembuatan tawas aluminium dalam laboratorium?
  2. Bagaimanakah proses sintesis tawas aluminium dalam industry?
  3. Apa manfaat dari penggunaan tawas aluminium?

 

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui proses pembuatan tawas aluminium dalam laboratorium.
  2. Untuk mengetahui proses sintesis tawas aluminium dalam industri.
  3. Untuk mengetahui manfaat dari penggunaan tawas aluminium.

 


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pembuatan

2.1.1 Prinsip

Tawas adalah garam sulfat terhidrat dengan formula M+, M3+ (SO4)2.12H2O.  M+ merupakan kation univalen, umumnya Na+, Fe+, Cr+, Ti3+ atau Co3+.  Aluminium sulfat biasanya dihasilkan oleh reaksi antara aluminium hidroksida (atau bahan baku aluminium lainnya seperti bauksit atau kaolin) dan asam sulfat, produk yang dihasilkan berupa padatan terhidrat dan larutan. Ada dua macam prosedur untuk reaksi, yaitu reaksi terus menerus dan batch. Dilihat dari segi waktu, untuk reaksi lengkap yang cukup panjang, reaksi batch biasa digunakan.
Kedua prosedur di atas tergantung pada kebutuhan konsumen, kondisi dalam pengangkutan produk dan sebagainya.

Aluminium sulfat cair dalam banyak kasus diperoleh setelah mengencerkan aluminium sulfat hidrat yang solid dalam air.  Proses ini hanya menghasilkan emisi udara dan air.  Untuk pembuatan aluminium sulfat sebagai padatan, campuran yang keluar dari reaktor dikirim tabung pendingin, flaker atau kotak pembekuan sesuai dengan bentuk yang diperlukan. Perawatan lebih lanjut mungkin termasuk penghancuran, penggilingan, penyaringan sebelum dilakukannya pengemasan. Proses ini menghasilkan air limbah dan emisi udara yang mengandung partikulat.

Tawas ada 5 macam, yaitu:

  1. Natrium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas natrium) dengan formula NaAl(SO4)2. 12H2O
  2. Kalium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas kalium) dengan rumus           KAl(SO4)2. 12H2O

Reaksi yang terbentuk adalah :

2Al(s) + 2K+(aq) + 2OH-(aq) + 6H2O(l) ——> 2K+(aq) + 2Al(OH)4-(aq) + 3H2(g).

Dimana Ion aluminium, Al(OH)4- yang bersifat ampoter jika direaksikan dengan asam sulfat, dan diendapkan sebagai aluminium hidroksida, tetapi larut pada pemanasan.

Reaksi yang terbentuk yaitu :

­ 2K+(aq) + 2Al(OH)4-(aq) + 2H+(aq) + SO42-(aq) —–> 2Al(OH)3(s) + 2K+(aq) +  SO42-(aq) + 2H2O(l)

­2Al(OH)3(s) + 6H+(aq) + 3SO42-(aq) —–> 2Al3+(aq) + 3SO42-(aq) + 6H2O(l)

  1. Amonium aluminium sulfat dodekahidrat (tawas amonium) dengan formula NH4Al(SO4)2.12H2O.
  2. Kalium kromium(III) sulfat dodekahidrat (tawas kromium) dengan formula KCr(SO4)2.12H2O

Reaksi yang terbentuk :

8H+(aq) + CrO72-(aq) + 3C2H5OH(aq) —–> 3CH3CHO(aq) + 2Cr3+(aq) + 7H2O(l)

Dimana ion sulfat dari asam sulfat dan ion kalium dari kalium dikromat bergabung dengan ion kromium(III) membentuk kristal tawas kromium yang terbentuk oktahedron dan berwarna violet sampai hijau gelap jika larutan yang pekat didinginkan. Reaksi yang terbentuk :

K+(aq) + Cr3+(aq) + 2O42-(aq) + 12H2O(l) —–> KCr(SO4)2. 12H2O(c).

  1. Amonium besi(III) sulfat dodekahidrat (tawas besi(II)) dengan formula NH4Fe(SO4)2.12H2O

Reaksi yang terbentuk yaitu :

2H+(aq) + NO3-(aq) +Fe2+(aq) —–> Fe3+(aq) + NO2(g) + H2O(l)
Dimana ion amonium dan ion sulfat dari amonium sulfat, (NH4)SO4, mengkristalkan ion besi(III) sebagai tawas besi(III).

NH4+(aq) + Fe3+(aq) + 2SO42-(aq) + 12H2O(l) —–> NH4Fe(SO4)2. 12H2O(c).

 

 

 

 

 

 

Sifat – sifat

Properties
Rumus molekul Al 2 (SO 4 ) 3
Massa molar 342,15 g / mol (anhidrat)
666.42 g/mol (octadecahydrate)
Penampilan kristal putih solid
hidroskopis
Kepadatan 2,672 g / cm 3 (anhidrat)
1,62 g / cm 3 (octadecahydrate)
Titik lebur 770 ° C (decomp, anhidrat)
86,5 ° C ( octadecahydrate )
Kelarutan dalam air 31.2 g/100 mL (0 ° C)
36,4 g/100 mL (20 ° C)
89,0 g/100 mL (100 ° C)
Kelarutan sedikit larut dalam alkohol , encerkan mineral asam
Keasaman (p K a) 3.3-3.6
Indeks bias (n D) 1.47

 

Aluminium sulfat

Nama IUPAC

Aluminium sulfat

Nama lainnya

Cake tawas
Filter tawas
Papermaker’s tawas
Alunogenite
Asam sulfat, garam aluminium (3:2)

Struktur
Struktur kristal monoklinik (hidrat)
senyawa terkait
kation lain Gallium sulfat
Magnesium sulfat
senyawa terkait Alum
Tambahan data halaman
Struktur
sifat
n , ε r ,
Termodinamika
data data
Solid, liquid, gas Padat, cair, gas
Spectral data UV , IR , NMR , MS UV , IR , NMR , MS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tawas adalah kelompok garam rangkap berhidrat berupa kristal dan bersifat isomorf.  Tawas berupa kristal putih gelap, tembus cahaya, rasanya agak asam kalau dijilat, bersifat menguatkan warna tetapi juga dapat digunakan sebagai penjernih air keruh, walaupun tawas berupa zat warna sintetis, tawas tidak mengandung racun dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Secara sederhana tawas sering digunakan sebagai obat untuk penghilang bau badan dan sariawan, karena PH 9 derajat keasaman yang rendah yaitu 8 mendekati normal maka pengaruh terhadap kulit semakin baik.

 

2.1.2 Bahan Dasar

1)   Aluminum Hidroksida

Aluminimum merupakan salah satu dari 8 besar elemen pada kerak bumi, merupakan unsur ke-3 yang paling melimpah di alam yaitu sekitar 8,1% berat. Walaupun jumlahnya melimpah, namun logam aluminium ini tidak pernah ditemukan dalam logam murninya di alam. tetapi dalam bentuk bauksit yang masih mengandung Fe2O3, serta Si2O3. Aluminium juga ditemukan bergabung dengan unsur – unsur lain membentuk suatu mineral. Misalnya persenyawaannya dengan group silikat yang biasanya disebut feldspar, yang merupakan mineral yang paling melimpah di lapisan kerak bumi. Salah satu jenis mineral aluminium silikat yaitu piropilit AlSi2O(OH), Selain itu, biasanya bergabung dengan mangan membentuk mineral yang disebut spesartin,Mn3Al2(SiO4). Aluminium silikat yang mengandung Floride atau hidroksida, Al2SiO4(F,OH)2, membentuk mineral permata yang dinamakan topas, aluminium silikat dengan kalium dinamakan  mikrolin, KAlSi3O,  yang biasanya berwarna hijau apel hingga kecoklatan.

Bauksit adalah bahan tambang yang merupakan bijih utama dari aluminium (99% bijih aluminium) yaitu unsur yang keberadaannya sangat melimpah di kerak bumi. Ada 3 macam aluminium hidroksida yang terdapat dalam bauksit, yaitu gibbsite Al2O3.3H2O atau Al(OH)3, diaspor Al2O3.H2O atau AlOOH dan boehmit Al2O3(AlO(OH)).

 

Sifat fisik bauksit berwarna coklat kemerahan, putih, atau kekuningan.  Bauksit digunakan sebagai bahan baku untuk produksi aluminium hidroksida atau oksida murni. Senyawa aluminium oksida yang paling umum adalah bauksit, atau aluminium murni yang mengandung aluminium oksida dalam jumlah besar. Biasanya merupakan kombinasi dari aluminium dan oksigen dengan rumus Al2O3.2H2O. pada bauksit ini juga terdapat beberapa pengotor antara lain Fe2O3 dan SiO2. Oleh karenanya, untuk memperoleh logam aluminium murni diperlukan pemrosesan bauksit lebih lanjut.(Davydson, 2009).

Untuk memperoleh aluminium murni mencakup empat tahap : (1)  Penyiapan bauksit (pelumatan, pencucian, pengeringan, penggerusan), (2)  Penjernihan bauksit menjadi tanah tawas murni (oksid aluminium Al2O) melalui cara Bayer, (3) Penyerapan zat asam (reduksi) tanah tawas hingga menjadi aluminium mentah melalui elektrolisa lebur dengan kliorit sebagai bahan pelarut (Na3AlF), (4) Peleburan alih wujud menjadi aluminium murni (99,5 – 99,8 %).

Secara umum untuk memperoleh aluminium murni dari bauksit dilakukan 2 tahapan proses, yaitu proses bayer dan proses Hall-Heroult. Pada proses Bayer, bauksit dimurnikan untuk mendapatkan aluminium oksida. Proses selanjutnya, proses Hall-Heroult, meleburkan aluminium dioksida untuk mendapatkan logam aluminium murni (Anonymous, 2007).

 

The Bayer process

 

Secara umum proses Bayer terdiri dari 3 tahapan, yaitu : ekstraksi, presipitasi dan kalsinasi (Anonymous,2009). Pada proses ekstraksi, bauksit dihancurkan secara mekanik dan kemudian dilarutkan dalam larutan natrium hidroksida panas pada suhu 175oC, pelarutan ini akan melarutkan aluminium oksida menjadi aluminium hidroksida, Al(OH)3.  Dengan OH- berlebih akan menghasilkan [Al(OH)4]-.

Al2O3 + 2OH- + 3H2O                   2 [Al(OH)4]-

Komponen lain selain aluminium oksida (impuritis) tidak larut. Sehingga aluminium oksida dari bauksit akan dapat dipisahkan dari pengotornya seperti Fe2. Pemisahan dapat dilakukan dengan penyaringan untuk pengotor padat yang tak larut yang disebut Red Mud. Setelah dipisahkan dengan pengotornya yang tidak larut, masuk pada proses presipitasi. Larutan filtrat yang berisi aluminium hidroksida didinginkan, sehingga dihasilkan presipitat putih padat berbentuk seperti benang – benang. Tahapan selanjutnya yaitu kalsinasi, dimana padatan putih aluminium hidroksida dipanaskan hingga suhu ±1050oC, pada proses pemanasan ini aluminium hidroksida akan mengalami dekomposisi menjadi alumina, dan menghasilkan uap air pada prosesnya (Anonymous,2009) :

 

Proses Bayer Secara Bertahap :

Bauksit dihancurkan secara mekanik, kemudian dicampur dengan soda kaustik (NaOH), dihasilkan suspensi berair yang mengandung partikel murni yang sangat beragam.

Suspense cair dipompa menuju digester (Tank yang berfungsi seperti tabung pengontrol tekanan). Larutan tersebut dipanaskan hingga suhu 230-520°F (110- 270°C) dibawah tekanan 50 lb/in2 (340 kPa). Pada kondisi ini, dilakukan selama sekitar setengah jam atau hingga beberapa jam. Pada prosesnya penambahan soda kaustik dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh senyawa aluminium yang terkandung terlarut.

Larutan panas, yang menjadi larutan natrium aluminat, dilewatkan melalui beberapa tangki flash yang mereduksi tekanan dan merocovery panas yang dapat digunakan kembali untuk proses pemurnian.

Selanjutnya larutan dipompakan menuju tangki pengendap. pada tangki ini, pengotor yang tidak larut akan mengendap dibawah tangki. Sehingga larutan hanya mengandung aluminium oksida yang terlarut dalam kaustik soda. Residu yang ada dibawah tangki (yang dinamakan “Red Mud”) mengandung pasir halus, besi oksida, oksida – oksida dari trace elemen misalnya titanium.

Setelah pengotor diendapkan, cairan yang tertinggal (dengan bentuk fisik seperti kopi), dipompa menuju sederetan saringan. Beberpa partikel halus dari pengotor yang tertinggal pada larutan akan ditangkap oleh filter. Material ini akan dicuci untuk mendapatkan alumina dan kaustik soda yang dapat digunakan kembali selama proses.

Cairan yang sudah disaring dipompa menuju tangki six-story-tall precipitation. Bibit Kristal dari alumina hidrat (alumina yang mengikat molekul air) ditambahkan di atas tangki. Bibit Kristal akan tumbuh sejalan dengan pengendapan cairannya dan alumina yang terlarut akan terikat pada Kristal yang terjadi.

Endapan Kristal yang terbentuk di bawah tangki kemudian dipindahkan. Setelah pencucian, dialihkan menuju pengering untuk kalsinasi (Pemanasan untuk menghilangkan molekul air yang terikat pada molekul alumina). Temperaturnya berkisar 2000° F (1.100° C) yang akan menghilangkan molekul air, sehingga hanya tinggal Kristal alumina anhidrat. Selanjutnya cristal dialirkan menuju cooler untuk pendinginan dan proses finishing.

 

 

 

 

 

 

The Hall-Heroult process

 

Secara umum pada proses ini, leburan alumina dielektrolisis, dimana lelehan tersebut dicampur dengan lelehan elektrolit kriolit didalam pot dimana pada pot tersebut terikat serangkain batang karbon dibagian atas pot  sebagai katoda. Karbon anoda berada dibagian bawah pot sebagai lapisan pot, dengan aliran arus kuat 4 – 5 V antara anoda dan katodanya proses elektrolisis terjadi. Alumina mengalami pemutusan ikatan akibat elektrolisis, lelehan aluminium akan menuju kebawah pot, yang secara berkala akan ditampung menuju cetakan berbentuk silinder atau lempengan. Masing – masing pot dapat menghasilkan 66,000- 110,000 ton aluminium per tahun(Anonymous,2009). Secara umum, 4 ton bauksit akan menghasilkan 2 ton alumina, yang nantinya akan menghasilkan 1 ton aluminium (Ulucak,2003)

Reaksi kimia secara umum pada proses Hall-Heroult :

 

Proses Hall-Heroult Secara Bertahap :

Lelehan alumina hingga menjadi logam aluminium terjadi pada baja vat yang disebut pot reduksi. Bagian bawah dari pot terlapisi/dibatasi dengan karbon yang bertindak sebagai salah satu elektroda (konduktor arus listrik) dari system. Electrode lawannya terdiri dari serangkain batang karbon yang tergantung diatas pot. Pot reduksi ini disusun sedemikian rupa, berjajar yang terdiri dari 50 – 200 pot yang terhubung satu sama lain membentuk sirkuit elektrik.

Dalam pot reduksi, Kristal alumina dilarutkan pada lelehan kriolit pada temperature 1.760-1.780° F (960-970° C) sehingga dihasilkan larutan elektrolit yang akan menghantarkan listrik dari batang karbon (Katoda) menuju Lapisan Karbon (Anoda). Arus DC (4-6 volts and 100,000-230,000 amperes) dialirkan melalui larutan. sehingga akan terjadi reaksi yang akan memutuskan ikatan aluminium dengan oksigen pada molekul alumina. Oksigen yang dibebaskan terikat pada batang karbon (Katoda), sehingga membentuk karbon dioksida. Aluminium murni terendapkan di bawah pot sebagai lelehan logam.

Proses peleburan dilanjutkan, dengan penambahan alumina pada larutan kriolit untuk menggantikan senyawa yang terdekomposisi. Arus listrik konstan tetap dialirkan. Panas yang berasal dari aliran listrik menjaga agar isi pot tetap berada pada keadaan cair. Lelehan aluminium murni terkumpul dibawah pot.

Lelehan yang berada dibawah pot, dikumpulkan.  Ditampung pada cetakan (batang atau lempeng). Saat aliran tersebut dialirkan kecetakan, bagian luar cetakan didinginkan dengan aliran air, yang menyebabkan aliminium menjadi padat. Logam murni yang padat dapat dibentuk dengan penggergajian sesuai dengan kebutuhan.

Penggunaan aluminium yang luas disebabkan aluminium memiliki sifat-sifat yang lebih baik dari logam lainnya seperti :

- Ringan : memiliki bobot sekitar 1/3 dari bobot besi dan baja, atau tembaga dan karenanya banyak digunakan dalam industri transportasi seperti angkutan udara.

- Kuat : terutama bila dipadu dengan logam lain. Digunakan untuk pembuatan produk yang memerlukan kekuatan tinggi seperti : pesawat terbang, kapal laut, bejana tekan, kendaraan dan lain-lain.

- Mudah dibentuk dengan semua proses pengerjaan logam. Mudah dirakit karena dapat disambung dengan logam/material lainnya melalui pengelasan, brazing, solder, adhesive bonding, sambungan mekanis, atau dengan teknik penyambungan lainnya.

- Tahan korosi : sifatnya durabel sehingga baik dipakai untuk lingkungan yang dipengaruhi oleh unsur-unsur seperti air, udara, suhu dan unsur-unsur kimia lainnya, baik di ruang angkasa atau bahkan sampai ke dasar laut.

- Konduktor listrik : setiap satu kilogram aluminium dapat menghantarkan arus listrik dua kali lebih besar jika dibandingkan dengan tembaga. Karena aluminium relatif tidak mahal dan ringan, maka aluminium sangat baik untuk kabel-kabel listrik overhead maupun bawah tanah.

- Konduktor panas : sifat ini sangat baik untuk penggunaan pada mesin-mesin/alat-alat pemindah panas sehingga dapat memberikan penghematan energi.

- Memantulkan sinar dan panas : Dapat dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kemampuan pantul yang tinggi yaitu sekitar 95% dibandingkan dengan kekuatan pantul sebuah cermin. Sifat pantul ini menjadikan aluminium sangat baik untuk peralatan penahan radiasi panas.

- Non magnetik : dan karenanya sangat baik untuk penggunaan pada peralatan listrik/elektronik, pemancar radio/TV. dan lain-lain, dimana diperlukan faktor magnetisasi negatif.

- Tak beracun : dan karenanya sangat baik untuk penggunaan pada industri makanan, minuman, dan obat-obatan, yaitu untuik peti kemas dan pembungkus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.) Asam sulfat (H2SO4)

Pembuatan Aluminium Sulfat dari bauksit umumnya menggunakan asam sulfat dengan konsentrasi 30-60%. Untuk membuat aluminium sulfat padat dibutuhkan asam sulfat 50%, 30% aluminium hidroksida, dan 20% air. Sedangkan pembuatan aluminium sulfat cair sekitar: 20 – 25 % asam sulfat, 12 – 15% aluminium hidroksida dan 60 – 65% air.

 

 

3.) H2O

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.3 Sintesis Tawas Aluminium

  • Skala Laboratorium

 

 

Reaksi

Pada penambahan KOH 20% reaksi berjalan cepat dan bersifat eksoterm karena menghasilkan kalor. Reaksi yang terjadi adalah :

2 Al(s) +   2 KOH(aq) +   6 H2O(liq) 2 KAl(OH)4(aq) + 3H2(g)

2Al(s) + 2OH-(aq) + 6H2O(liq) 2Al(OH)4-(aq) + 3H2(g)

Dalam reaksi ini terbentuk gas H2 yang ditandai dengan munculnya gelembung- gelembung gas. Gelembung-gelembung gas hilang setelah semua aluminium bereaksi. Untuk menghindari terbentuknya Al(OH) maka KOH 20% ditambahkan berlebih. Pada tahap ini, dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi. Filtrat yang diperoleh ditambah H2SO4 6 M kemudian disaring untuk menghilangkan pengotor-pengotornya. Reaksi yang terjadi adalah :

2 KAl(OH)4(aq) +   H2SO4(aq) 2 Al(OH)3(s) +   K2SO4 (aq) +   3 H2O-

Al(OH)4- (aq) + H+(aq) Al(OH)3(s) + H2O(liq)

Penambahan larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH)4] dapat bereaksi sempurna. Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan H2SO4 dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

2 Al(OH)3(s) +   3 H2SO4(aq) Al2(SO4)3 (aq) +   6 H2O(liq)

Al(OH)3 (s) + 3H+ (aq) Al3+(aq) + 3H2O (liq)

Pada reaksi sebelumnya, penambahan H2SO4 membentuk Al(OH) bersama-sama dengan K[Al(OH)4], namun setelah berlebih H2SO4 melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4) berupa larutan bening tak berwarna. Senyawa Al2(SO4)3 yang terbentuk pada reaksi (3) di atas bereaksi kembali dengan K2SO4 hasil reaksi (2) membentuk kristal yang diperkirakan adalah  KAl(SO4)2.12H2O

K2SO4(aq) +    Al2(SO4)3(aq)                    2KAl(SO4)2. 12 H2O

K+(aq) + Al3+(aq) + 2SO42-(aq) + 12H2O(liq) KAl(SO4)2.12H2O(s)

Kristal alum (tawas) yang diperoleh dicuci dengan larutan etanol 50% yang bertujuan untuk menyerap kelebihan air dan mempercepat pengeringan.

 

 

  • Skala Pabrik

 

 

 

 

 

Reaksi

Pada prosedurnya yang pertama dilakukan adalah dengan melarutkan Al(OH)3 dengan air. Air ini digunakan untuk mengencerkan tawas sehingga tawas tersebut berubah dari padatan menjadi larutan, karena tawas dalam bentuk padatan akan sulit bereaksi dengan asam sulfat encer. Penggunaan asam sulfat disini berfungsi sebagai reaktan.  Proses pencampuran tersebut menghasilkan reaksi eksoterm (mengeluarkan panas) sehingga bersifat eksplosif dan dapat meledak. Bubuk aluminium hidroksida kemudian disuplay ke dalam reaktor dari hopper dan bubur aluminium hidroksida terbentuk.  Selama penambahan asam sulfat dalam reaktor dari tangki asam sulfat oleh pompa, mengikuti persamaan reaksi berikut  (diproses dalam reaktor).

2Al (OH)3 + 3H2SO4 Al2 (SO4)3 + 6H2O

Dibutuhkan tambahan pasokan air, aluminium hidroksida dan asam sulfat dikendalikan oleh weighing (sistem timbangan) pada reaktor. Dalam proses reaksi, suhu cairan dalam reaktor secara bertahap meningkat menjadi tingkat yang sangat tinggi (110-120 ° C) dan di bawah tekanan atmosfer sehingga lapisan kaca diterapkan untuk reaktor seperti terlihat pada gambar 1.

 

Dalam beberapa kasus produksi tekanan ini juga digunakan dengan suhu sampai sekitar 170°C.  Panas yang diperlukan untuk proses tersebut berasal dari reaksi eksotermik. Konsentrasi normal Al dalam digester adalah rasio 7 – 9%, yang berarti bahwa titik didih sekitar 120°C dan suhu kristalisasi 105-110°C.

Uap dari reaktor terkondensasi di scrubber dengan air segar dan air diperoleh kembali sebagai hasil daur ulang sebagai air repulping untuk pencegahan repulping air limbah.  Dalam operasi normal, produksi  aluminium sulfat sebagai larutan dimasukkan ke sepanjang daerah/lajur pendingin untuk pengendapan padatan dengan mengurangi suhu cairan.  Dalam keadaan darurat, seperti kegagalan listrik dan kesulitan dalam lajur pendingin dan seterusnya, solusi air dalam reaktor dibebankan pada tangki darurat untuk pencegahan pengendapan dari padatan aluminium sulfat di mana air yang memadai telah disimpan untuk pengenceran dari larutan yang dihasilkan dalam reaktor.  Seperti larutan aluminium sulfat diencerkan dalam tangki darurat baik didaur ulang ke reaktor atau diberikan kepada para pengguna yang menginginkan produk berair.

2.1.4 Produksi gumpalan Kristal aluminium sulfat

Aluminium sulfat larutan pada suhu tinggi dipasok dari reaktor kemudian didinginkan di lajur pendingin untuk pengendapan produk padatan aluminium sulfat hidrat.  Proses tersebut mengikuti reaksi sebagai berikut

Al2 (SO4) 3 + xH2O           Al2 (SO4) 3.xH2O

Dalam sabuk dingin ditunjukkan pada foto 2 & 3 dengan air pendingin menyebar dari bawah dan produk serpihan diperoleh di outlet. Permukaan sabuk dijaga pada suhu rendah namun tidak boleh terlalu dingin.  Jika terlalu dingin, tawas akan mengkristal dan mengendap karena kelarutannya rendah dalam suasana dingin, akibatnya tawas sulit untuk dicetak. Setelah proses penghancuran oleh breaker, produk hidrasi diselesaikan di maturing conveyor.

 

2.1.5 Menghancurkan,  skrining, dan pengepakan

Produk yang solid blok dari conveyor dihancurkan menjadi bubuk halus kemudian diangkut ke screen untuk pemisahan produk – produk kasar dan halus.
Yang pertama adalah daur ulang untuk crusher lagi. terakhir disimpan dalam silo produk dan dikemas oleh produk-timbangan dan packer sebagai produk akhir. Oleh karena itu, proses ini adalah dimodifikasi dengan persyaratan spesifikasi dengan ukuran  granular. Gas buang dari penghancur ditreatmen oleh bag filter bersama-sama dengan lain mengisap dari layar dan bagian kemasan untuk pencegahan debu di pabrik

 

2.1.6 Manfaat Tawas

 

Beberapa kegunaan alum antara lain: adalah bahan penting bagi industri kimia dan dimanfatkan dalam industri kertas, pengolahan air, dan pengolahan limbah.  Di sisi lain, aluminium sulfat juga memiliki berbagai aplikasi termasuk isolasi selulosa, manufaktur bahan kimia, modifikasi dari beton, sediaan farmasi, penyamakan dan makanan, sebagai minyak rambut untuk rambut kering. Alum  digunakan dalam banyak vaksin subunit sebagai adjuvant untuk meningkatkan respon tubuh terhadap immunogens. Vaksin tersebut termasuk hepatitis A, hepatitis B dan DTaP. Alum dalam bentuk bubuk atau kristal, atau pensil tasak, kadang-kadang diterapkan pada luka untuk mencegah atau mengobati infeksi.  Tawas digunakan oleh pemilik hewan peliharaan untuk menghentikan pendarahan yang berhubungan dengan luka pada hewana. Alum terdaftar sebagai bahan dari beberapa merek pasta gigi Alum bubuk, ditemukan di bagian bumbu toko grosir, dapat digunakan dalam pengawetan resep sebagai pengawet untuk mempertahankan buah dan sayuran crispness, digunakan sebagai bubuk baking komersial. Alum juga merupakan komponen foamite, digunakan dalam alat pemadam kebakaran meredakan kimia dan kebakaran minyak. Alum digunakan untuk mengklarifikasi air dengan menangkap partikel yang sangat halus dalam endapan seperti gel aluminium hidroksida.  Alum dapat digunakan untuk meningkatkan viskositas suspensi lapisan es keramik, hal ini membuat glasir lebih mudah melekat dan memperlambat laju sedimentasi.

 

Gambar. Kegunaan Tawas pada Proses Treatment Air

Tawas Sebagai Koagulan

Tawas/Alum adalah sejenis koagulan dengan rumus kimia Al2S04 11 H2O atau 14 H2O atau 18 H2O umumnya yang digunakan adalah 18 H2O. Semakin banyak ikatan molekul hidrat maka semakin banyak ion lawan yang nantinya akan ditangkap akan tetapi umumnya tidak stabil. Pada pH < 7 terbentuk Al ( OH )2+, Al ( OH )2 4+,  Al2 ( OH )2 4+. Pada pH > 7 terbentuk Al ( OH )-4. Flok –flok Al ( OH )3 mengendap berwarna putih.

Gugus utama dalam proses koagulasi adalah senyawa aluminat yang optimum pada pH netral. Apabila pH tinggi atau boleh dikatakan kekurangan dosis maka air akan nampak seperti air baku karena gugus aluminat tidak terbentuk secara sempurna. Akan tetapi apabila pH rendah atau boleh dikatan kelebihan dosis maka air akan tampak keputih – putihan karena terlalu banyak konsentrasi alum yang cenderung berwarna putih. Dalam cartesian terbentuk hubungan parabola terbuka, sehingga memerlukan dosis yang tepat dalam proses penjernihan air.  Reaksi alum dalam larutan dapat dituliskan.:

Al2S04 +  6 H2O              Al ( OH )3 + 6 H+ + SO42-

Reaksi ini menyebabkan pembebasan ion H+ dengan kadar yang tinggi ditambah oleh adanya ion alumunium. Ion Alumunium bersifat amfoter sehingga bergantung pada suasana lingkungan yang mempengaruhinya. Karena suasananya asam maka alumunium akan juga bersifat asam sehingga pH larutan menjadi turun.

Jika zat-zat ini dilarutkan dalam air, akan terjadi disosiasi garam menjadi kation logam dan anion. Ion logam akan menjadi lapisan dalam larutan dengan konsentrasi lebih rendah dari pada molekul air, hal ini disebabkan oleh muatan posistif yang kuat pada permukaan ion logam (hidratasi) dengan membentuk molekul heksaquo (yaitu 6 molekul air yang digabung berdekatan) atau disebut dengan logam (H2O)63+ , seperti [Al.(H2O)6]3+ .

Ion seperti ini hanya stabil pada media yang sedikit asam , untuk aluminium pada pH < 4, untuk Fe pada pH < 2.

Jika pH meningkat ada proton yang akan lepas dari ion logam yang terikat tadi dan bereaksi sebagai asam.

Sebelum digunakan satu hal yang harus disiapkan yaitu larutan koagulan. Di dalam larutan, koagulan harus lebih efektif, bila berada pada bentuk trivalen     (valensi 3) seperti Fe3+ atau Al3+, menghasilkan pH < 1,5. Bila larutan alum ditambahkan ke dalam air yang akan diolah terjadi reaksi sebagai berikut :

Reaksi hidrolisa : Al3+ + 3H2O → Al(OH)3 + 3H+ ….1)

Jika alkalinitas dalam air cukup, maka terjadi reaksi :

Jika ada CO32− : CO32− + H+ → HCO3+ H2O ………..2)

Atau dengan HCO3: HCO3+ H+ → CO2 + H2O ……3)

Dari reaksi di atas menyebabkan pH air turun.

Kelarutan Al(OH)3 sangant rendah, jadi pengendapan akan terjadi dalam bentuk flok. Bentuk endapan lainnya adalah Al2O3. nH2O seperti ditunjukkan reaksi :

2Al3+ + (n+3)H2O → Al2O3.nH2O + 6H+

Ion H+ bereaksi dengan alkalinitas.

Reaksi-reaksi hidrolisa yang tercantum di atas merupakan persamaan reaksi hidrolisa secara keseluruhan. Reaksi 1) biasanya digunakan untuk menghitung perubahan alkalinitas dan pH.

Pada kenyataannya ion Al3+ dalam larutan koagulan terhidrasi dan akan berlangsung dengan ketergantungan kepada pH hidrolisa. Senyawa yang terbentuk bermuatan positip dan dapat berinteraksi dengan zat kotoran seperti koloid.

[Al(H2O)6]3+ —à  [Al(H2O)5OH]2+ + H+

[Al(H2O)5OH]2+ —à  [Al(H2O)4(OH)2]+ + H+

[Al(H2O)4(OH)2]+ —à [Al(H2O)3(OH)3] + H+ endapan

[Al(H2O)3(OH)3]    —à   [Al(H2O)2(OH)4]+ H+ terlarut

Tahap pertama terbentuk senyawa dengan 5 molekul air dan 1 gugus hidroksil yang muatan total akan turun dari 3+ menjadi 2+ misalnya : [Al(H2O)5OH]2+.

Jika pH naik terus sampai mencapai ±5 maka akan terjadi reaksi tahap kedua dengan senyawa yang mempunyai 4 molekul air dan 2 gugus hidroksil. Larutan dengan pH >6 (dipengaruhi oleh Ca2+) akan terbentuk senyawa logam netral (OH)3 yang tidak bisa larut dan mempunyai volume yang besar dan bisa diendapkan sebagai flok (di IPA).

Jika alkalinitas cukup ion H+ yang terbentuk akan terlepas dan endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3 yang terbentuk. Pada pH lebih besar dari 7,8 ion aluminat [Al(H2O)2(OH)4]atau hanya Al(OH)4]yang terbentuk yang bermuatan negatip dan larut dalam air. Untuk menghindari terbentuknya senyawa aluminium terlarut, maka jangan dilakukan koagulasi dengan senyawa aluminium pada nilai pH lebih besar dari 7,8.

Polimerisasi senyawa aluminium hidroksil berlangsung dengan menghasilkan kompleks yang mengandung ion Al yang berbeda berikatan dengan ion lainnya oleh grup OH. Contoh :

OH [(H2O)4 Al Al(H2O)4]4+ atau Al2(OH)24+

OH Polinuklir Al kompleks diajukan untuk diadakan, seperti :

[Al7(OH)17]4+ ; [Al8(OH)20]4+ ; [Al13(OH)34]5+

Selama koagulasi pengaruh pH air terhadap ion H+ dan OHadalah penting untuk menentukan muatan hasil hidrolisa. Komposisi kimia air juga penting, karena ion divalen seperti SO42− dan HPO42− dapat diganti dengan ion-ion OHdalam kompleks oleh karena itu dapat berpengaruh terhadap sifat-sifat endapan.

Presipitasi dari hidroksida menjamin adanya ion logam yang bisa dipisahkan dari air karena koefisien kelarutan hidroksida sangat kecil. Senyawa yang terbentuk pada pH antara 4 – 6 dan yang terhidrolisa, dapat dimanfaatkan untuk polimerisasi dan kondensasi (bersifat membentuk senyawa dengan atom logam lain) misalnya Al6(OH)153+.

Aluminium sering membentuk komplek 6 s/d 8 dibandingkan dengan ion Fe (III) yang membentuk suatu rantai polimer yang panjang. Senyawa itu disebut dengan cationic polynuclier metal hydroxo complex dan sangat bersifat mengadsorpsi dipermukaan zat-zat padat. Bentuk hidrolisa yang akan terbentuk didalam air , sebagian besar tergantung pada pH awal, kapasitas dapar (buffer), suhu, maupun konsentrasi koagulan dan kondisi ionik (Ca2+ dan SO42–) maupun juga dari kondisi pencampuran dan kondisi reaksi.

Senyawa Al yang lainnya adalah sodium aluminat, NaAlO2 atau Na2Al2O4. Kelebihan NaOH yang ditambahkan (rasio Na2O/Al2O3 dalam Na2Al2O4 adalah : 1,2 − 1,3/1) untuk menaikkan stabilitas sodium aluminat. Penambahan zat ini dalam bentuk larutan akan menghasilkan reaksi berikut :

AlO2+ 2H2O → Al(OH)4

Al(OH)4→ Al(OH)3 + OH

Reaksi kedua hanya mungkin bila asiditas dalam air cukup untuk menghilangkan ion OHyang terbentuk sehingga menyebabkan kenaikan pH.

CO2 + OH→ HCO3

HCO3 + OH → CO3 2− + H2O

Kadang-kadang bila air tidak mengandung alkalinitas, perpaduan antara sodium aluminat dan alum digunakan untuk menghindari perubahan pH yang besar dan untuk membuat pH relatif konstan.

2Al3+ + 3SO42− + 6H2O → 2Al(OH)3 + 3SO2− + 6H+

6AlO2 + 6Na+ + 12H2O → 6Al(OH)3 + 6Na+ + 6OH

_________________________________________________________

2Al3+ + 3SO42− + 6Na+ + 6AlO2+ 12H2O → 8Al(OH)3 + 6Na++3SO42−

Pada prakteknya satu hal dipertimbangkan memberikan kelebihan asam dari larutan alum (pH 1,5) yang ditambahkan dan yang lainnya kelebihan NaOH di dalam sodium aluminat (untuk stabilitas).

Pada kekeruhan yang disebabkan tanah liat sangat baik dihilangkan dengan batas pH antara 6,0 sampai dengan 7,8; penghilangan warna umumnya dilakukan pada pH yang sedikit asam, lebih kecil dari 6, bahkan di beberapa daerah harus lebih kecil dari 5. Dari beberapa penelitian (untuk air gambut dari daerah Riau), efisiensi penghilangan warna akan baik bila pH lebih kecil dari 6 untuk setiap dosis koagulan alum sulfat yang digunakan. Walaupun demikian efisiensi penghilangan warna masih tetap tinggi dihasilkan pada koagulasi dengan pH sampai 7, tetapi dengan dosis alum sulfat yang lebih tinggi (sampai 100 mg/l), tetapi bila dosis alum sulfat lebih kecil (60 mg/l) pada pH yang sama (sampai dengan 7), terjadi penurunan efisiensi penghilangan warna secara drastis (sampai dengan 10 %).

Air setelah diolah dengan koagulasi – flokulasi untuk menghilangkan warna, pH harus ditetapkan diatas 6,5 (kurang dari 7,8) sebelum air disaring, karena pada pH tersebut bentuk aluminium tidak larut, jadi residu Al3+ terlarut didalam air dapat dihilangkan/dikurangi, pada pH > 7,8 bentuk Al adalah Al terlarut yaitu ion aluminat, [Al(H2O)2(OH)4]Untuk hal ini dilakukan penambahan kapur sebelum proses filtrasi, dan biarkan aluminium berubah bentuk menjadi bentuk tidak larut/endapan supaya dapat dihilangkan dengan penyaringan. Dengan cara ini residu Al3+ dapat ditekan sampai tingkat yang diijinkan. Setelah itu baru boleh dilakukan penambahan kembali kapur atau soda abu untuk proses Stabilisasi dengan harapan tidak akan terjadi perubahan alum terlarut menjadi alum endapan. Bila cara diatas tidak dilakukan, kemungkinan akan terjadi pengendapan alum di reservoir atau pada jaringan pipa distribusi, akibat penambahan kapur atau soda abu untuk proses stabilisasi dilakukan setelah air keluar dari filter, seperti halnya yang dilakukan pada pengolahan air yang biasa ( tidak berwarna ).

Proses koagulasi dengan koagulan lain seperti halnya garam Fe (III) yang mempunyai rentang pH lebih besar (4–9) dan penggunaan koagulan Polyaluminium chloride (PAC), tanpa penetapan pH pun proses koagulasi – flokulasi tetap dapat berlangsung, tetapi pembentukan flok tidak optimum, hanya flok-flok halus yang terbentuk, sehingga beban filter akan bertambah.

Jika kehadiran alkalinitas didalam air cukup, pada koagulasi dengan koagulan garam Al ion H+ yang terbentuk akan diambil dan terbentuk endapan [Al(H2O)3(OH)3] atau hanya Al(OH)3, dimana bentuk ini bermanfaat pada pertumbuhan flok ( mekanisme adsorpsi ). Adanya alkalinitas didalam air jika pH air > 4,5. Jadi jika pH air baku < 4,5 perlu penambahan bahan alkali (kapur atau soda abu).

Tawas Sebagai Penghilang Bau Badan

Tawas bersifat adstringen. Sifat ini membantu mengerutkan luka sariawan pada, selaput lendir mulut, dengan daya menggumpalkan protein. Sifat adstringen ini mungkin yang mendasari tawas sebagai antiperspiran, dengan mengerutkan pori kelenjar keringat sekaligus bertindak sebagai antiseptik lemah dengan menggumpalkan protein mikroba. Dalam suasana asam karena hasil uraian keringat oleh mikroba, Al bersifat sebagai basa, dengan demikian akan menetralkan asam-asam yang terbentuk. Dengan dugaan mekanisme di atas, tawas akan mengurangi pengeluaran keringat dan menggumpalkan mikroba sehingga pertumbuhannya terhambat, dan akhirnya sumber bau badan akan berkurang.

Tawas dalam Bahan makanan

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurrahman dan Isworo, 2002, membuktikan bahwa ikan tongkol yang direndam dalam larutan tawas sebelum diasap, teksturnya menjadi lebih kompak, kesat dan keras. Ikan yang direndam terlebih dahulu pada larutan tawas 10% selama satu jam sebelum diasap, warnanya lebih putih, konsentrasi senyawa nitrogen volatilnya menurun sehingga mengurangi bau amis, rasa pahit dan tidak berkurang kadar proteinnya. Adanya interaksi dengan tawas, maka nilai total volatile nitrogen yang berkaitan dengan bau amis ikan akan menurun.  Menurut Haribi dan Yusrin, 2005, daging ikan yang direndam terlebih dahulu dengan tawas dengan konsentrasi mulai 4% sampai dengan 12% dan waktu perendaman yang berfariasi mulai dari 30 menit sampai dengan 150 menit sebelum diasap, konsentrasi aluminium per 10 gram daging ikan pada yang sudah dan sebelum diasap tidak berbeda yaitu sekitar 0,266 sampai dengan 0,413 ppm. Proses pengasap yang memakan waktu hampir 4 jam, ternyata tidak mengurangi konsentrasi alumunium di dalam daging ikan . Konsentrasi alumunium dalam daging ikan tidak bertambah walaupun konsentrasi tawas dan waktu kontaknya dinaikkan. Dalam hal ini terjadi kejenuhan dalam pengikatan ion alumunium  oleh daging ikan.

Tawas sebagai Penyamak kulit

Kulit terbentuk dari reaksi serat kalogen di dalam kulit hewan dan tannin, krom, tawas atau zat penyamak lain. Pada dasarnya untuk mengubah kulit hewan digunakan dua proses : proses rumah-balok, kulit hewan dibersihkan dan disiapkan untuk operasi penyamakan. Pertama-tama, kulit direndam dalam air untuk menghilangkan kotoran, darah, garam dan pupuk. Kemudian kulit dibersihkan dengn mesin atau tangan untuk menghilangkan sisa-sisa daging yang ada. Penghilangan bulu dilakukan secara kimia dengan tangan dan atau mesin. Bubur kapur tohor digunakan untuk melepaskan bulu, kemudian apabila bulu itu akan digunakan dapat dilarutkan dengan natrium sulfida. Langkah pertama dalam proses penyamakan adalah perendaman kulit hewan dalam larutan garam ammonia dan enzim.  Semua kulit hewan untuk penyamaan krom harus mengalami pengasaman. Pengasaman membuat kulit hewan bersifat asam dengan menggunakan asam sulfat dan natrium chlorida.  Penyamakan itu sendiri dilakukan di dalam tong yang berisi tannin nabati (kulit pohon, kayu, buah atau akar), atau campuran kimi yang mengandung krom sulfat. Pemucatan, pemberian warna coklat, cairan lemak dan pewarnaan digunakan untuk kulit khusus. Langkah-langkah akhir seperti pengeringan, perentangan dan penekanan kulit adalah proses kering dan tidak menghasilkan limbah cair

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

  1. Dalam laboratorium, tawas aluminium dibuat dengan mereaksikan aluminium dengan KOH/NH4OH/NaOH, H2O dan H2SO4.
  2. Dalam industry, sintesis tawas aluminium dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu mereaksikan aluminium hidroksida dengan asam sulfat dalam reactor, produksi gumpalan kristal aluminium sulfat pada belt cooler, crushing, skrining dan packing.
  3. Beberapa kegunaan alum antara lain: adalah bahan penting bagi industri kimia dan dimanfatkan dalam industri kertas, pengolahan air, dan pengolahan limbah.  Di sisi lain, aluminium sulfat juga memiliki berbagai aplikasi termasuk isolasi selulosa, manufaktur bahan kimia, modifikasi dari beton, sediaan farmasi, penyamakan dan makanan,dll.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous,2009, BAYER PROCESS CHEMISTRY, http://www.world- aluminium.org/About+Aluminium//nternational Aluminium Institute.htm, diakses tanggal 16 Maret 2009 Anonymous, 2007, ALUMINIUM, http://www.madehow.com/Volume-5/Aluminum.html, diakses tanggal 16 Maret 2009.

 

Badan POM RI, 2009, Naturakos,   Vol. IV/No.12.

 

Chemistry 111 Laboratory (2004), “THE SYNTHESIS OF POTASSIUM ALUMINUM

SULFATE (Alum) FROM ALUMINUM SCRAP”.

 

European Environment Agency (2005). ” Additional Information submitted during the information exchange on  Large Volume Inorganic Chemicals – Solid and Others Industry”.

 

http://www.wikipedia.org. (Aluminium Sulfat).

 

Institute Consulting Japan, 1998, Aluminum Sulfate Manufacturing Plant, Project Planning For Small and Medium Scale Industries, No.60.

 

Indah., Hoki, N., Suaiman, A., Aditya, P., 2009, Proses Isolasi Aluminium Dari Bauksit dan Pemanfaatannya, Universitas Brawijaya, Malang.

 

Kusriniati, D., 2007, Pemanfaatan Daun Sengon (Albizia Falcataria) Sebagai  Pewarna Kain Sutera Menggunakan  Mordan Tawas Dengan Konsentrasi Yang Berbeda Pada Busana Camisol, Universitas Negeri Semarang.

 

Manurung, M., dan Ayuningtyas, I. F., 2010, Kandungan Aluminium Dalam Kaleng Bekas Dan Pemanfaatannya Dalam Pembuatan Tawas, JURNAL KIMIA 4(2).

 

Santi, N. D., 2004, Pengelolaan Limbah Cair  Pada Industri Penyamakan Kulit Industri Pulp Dan Kertas Industri Kelapa Sawit, Universitas Sumatra Utara.

 

Ulucak, Timur, 2003, ALUMINIUM ALUMINUM EXTRUSION, ROLLED PRODUCT, CASTING, CONDUCTOR, diakses tanggal 16 Maret 2009.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: