HPLC

By: dwioktavia

Apr 14 2011

Category: Uncategorized

Leave a comment

MAKALAH

METODE PEMISAHAN KIMIA

“HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY (HPLC)”

“HPLC Method for the Analysis of Paracetamol, Cafeine and Dipyrone”

OLEH :

KELOMPOK I

KHRISMALA SURYA NINGSIH                  (  F1C1 08 019 )

DWI PRATIWI OKTAVIA SAPUTRA        (  F1C1 08 039 )

SRI SUMIARNI                                                            ( F1C1 06 033 )

MARIO HOKASIH SAGALA                         (  F1C1 08 003 )

LA NAANI                                                        (  F1C1 05 0 )

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2010

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah, Segala Puji bagi ALLAH karena atas kekuasaan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu prasyarat pemenuhan tugas dari mata kuliah Metode Pemisahan Kimia. Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Metode Pemisahan Kimia, Bapak Abd. Haris Watoni, S. Si., M. Si.,  yang telah memberikan kesempatan dan materi masukan selama proses perkuliahan submateri Metode Pemisahan Kimia  yang sangat berarti dalam pembuatan makalah ini. Semoga ALLAH membalas kebaikannya. Serta terima kasih pula kepada rekan – rekan Kimia FMIPA UNHALU yang turut mengikuti mata kuliah ini atas segala saran, kritikan dan bantuannya selama proses pembuatan makalah ini.

Kami telah berusaha untuk menyempurnakan penulisan makalah ini namun sebagai manusia kami menyadari akan  keterbatasan  maupun kekhilafan  dan  kesalahan  yang  tanpa  disadari.  Oleh  karena  itu,  saran  dan kritik untuk perbaikan makalah ini akan sangat dinantikan. Akhir dari pengantar ini penulis berharap semoga dari makalah ini kita dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat. Amiin.

 

Kendari,          Mei 2010

 

Kelompok I

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Kimia analitik adalah cabang ilmu kimia yang berfokus pada analisis material untuk mengetahui komposisi, struktur, dan fungsi kimiawinya. Secara tradisional, kimia analitik dibagi menjadi dua jenis, kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk mengetahui keberadaan suatu unsur atau senyawa kimia, baik organik maupun anorganik, sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui jumlah suatu unsur atau senyawa dalam suatu cuplikan. Kimia analitik modern dikategorisasikan melalui dua pendekatan, target dan metode. Berdasarkan targetnya, kimia analitik dapat dibagi menjadi kimia bioanalitik, analisis material, analisis kimia, analisis lingkungan, dan forensik. Berdasarkan metodenya, kimia analitik dapat dibagi menjadi spektroskopi, spektrometri massa, kromatografi dan elektroforesis, kristalografi, mikroskopi, dan elektrokimia.

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen – komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.

Sekarang ini, kromatografi sangat diperlukan dalam memisahkan suatu campuran senyawa.  HPLC didefinisikan sebagai kromatografi cair yang dilakukan dengan memakai fase diam yang terikat secara kimia pada penyangga halus yang distribusi ukuranya sempit ( kolom ) dan fase gerak yang dipaksa mengalir dengan laju alir yang terkendali dengan memakai tekanan tinggi sehingga menghasilkan pemisahan dengan resolusi tinggi dan waktu yang relative singkat.

HPLC atau KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlah bidang, antara lain : farmasi; lingkungan; bioteknologi; polimer; dan industri- industri makanan. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa keterangan tentang penggunaan HPLC ( High Performance Liquid Chromatography), dalam bidang kefarmasian yaitu HPLC Method for the Analysis of Paracetamol, Cafeine and Dipyrone (Metode HPLC Untuk Analisis Parasetamol, Kafein dan Antalgin).

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas , maka permasalahan yang akan dibahas makalah ini adalah :

  1. Apa saja komponen utama dari HPLC?
  2. Bagaimana prinsip kerja dari HPLC?
  3. Bagaimana penerapan HPLC dalam analisis senyawa (obat) dalam campuran?
  4. Apa saja kelebihan dan kekurangan metode analisis dengan HPLC?

 

  1. C. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui komponen utama dari HPLC.
  2. Untuk mengetahui prinsip kerja dari HPLC.
  3. Untuk mengetahui penerapan HPLC dalam analisis senyawa (obat) dalam campuran.
  4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode analisis dengan HPLC.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Teknik HPLC merupakan satu teknik kromatografi cair – cair yang dapat digunakan baik untuk keperluan pemisahan maupun analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dengan teknik HPLC didasarkan kepada pengukuran luas atau area puncak analit dalam kromatogram, dibandingkan dengan luas atau area larutan standar.
Kegunaan umum HPLC adalah untuk pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa biologis ; analisis ketidakmurnian (impurities); analisis senyawa- senyawa mudah menguap (volatile); penentuan molekul- molekul netral, ionic, maupun zwitter ion; isolasi dan pemurnian senyawa; pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama; pemisahan senyawa- senyawa dengan jumlah sekelumit (trace elements), dalam jumlah yang banyak, dan dalam skala proses industry.

 

  1. Komponen-Komponen Penting Dari HPLC

Gambar Rangkaian Instrumen HPLC

  1. Pompa (Pump)

Ada dua tipe pompa yang digunakan, yaitu pompa kinerja konstan (constant pressure) dan pompa pemindahan konstan (constant displacement). Pemindahan konstan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: pompa reciprocating dan pompa syringe. Pompa reciprocating menghasilkan suatu aliran yang berdenyut teratur (pulsating), oleh karena itu membutuhkan peredam pulsa atau peredam elektronik untuk, menghasilkan garis dasar (base line) detektor yang stabil, bila detektor sensitif terhadapan aliran. Keuntungan utamanya ialah ukuran reservoir tidak terbatas. Pompa syringe memberikan aliran yang tidak berdenyut, tetapi reservoirnya terbatas.

Syarat – syarat pompa yang ideal:

  1. Mampu membangkitkan tekanan tinggi
  2. Pulse free – out put
  3. Control laju alir yang akurat
  4. Tahan korosi

e.    Terbuat dari bahan yang tahan terhadap fasa gerak

f.    Bebas pulsa

g.   Perlu“de gasser”

h.   Dapat menyalurkan fasa gerak pada rentang kecepatan dan tekanan lebar

i.    Dapat digunakan untuk melakukan elusi gradien

j.    Bekerja pada tekanan sampai 6000 psi (400 atm)

  1. Detektor (Detector)

Suatu detektor dibutuhkan untuk mendeteksi adanya komponen sampel di dalam kolom (analisis kualitatif) dan menghitung kadamya (analisis kuantitatif). Detektor yang baik memiliki sensitifitas yang tinggi, gangguan (noise) yang rendah, kisar respons linier yang luas, dan memberi respons untuk semua tipe senyawa. Suatu kepekaan yang rendah terhadap aliran dan fluktuasi temperatur sangat diinginkan, tetapi tidak selalu dapat diperoleh.

Jenis – jenis detector

  • SpektrofotometerUV –Visible
  • Indeks bias
  • Spektrofluorimeter( zatberfluoresensi)
  • Konduktivitaslistrik( zationik)
  • Spektrometerinfra merah
  • Spektrometermassa( LC –MS )
  • SpektrometerNMR ( LC –NMR )

Detektor KCKT yang umum digunakan adalah detektor UV 254 nm. Variabel panjang gelombang dapat digunakan untuk mendeteksi banyak senyawa dengan range yang lebih luas. Detektor indeks refraksi juga digunakan secara luas, terutama pada kromatografi eksklusi, tetapi umumnya kurang sensitif jika dibandingkan dengan detektor UV.

  1. Injektor (injector)

Injektor merupakan tempat untuk memasukkkan sempel ke kolom. Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu. Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:

  • tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
  • kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel)
  • komposisi yang tepat dari pelarut
  • temperatur pada kolom
  1. Elusi Gradien

Elusi Gradien didefinisikan sebagai penambahan kekuatan fasa gerak selama analisis kromatografi berlangsung. Efek dari Elusi Gradien adalah mempersingkat waktu retensi dari senyawa-senyawa yang tertahan kuat pada kolom. Dasar-dasar elusi gradien dijelaskan oleh Snyder.

Elusi Gradien menawarkan beberapa keuntungan :

a. Total waktu analisis dapat direduksi

b. Resolusi persatuan waktu setiap senyawa dalam campuran bertambah

c. Ketajaman Peak bertambah (menghilangkan tailing)

d. Efek sensitivitas bertambah karena sedikit variasi pada peak

  1. Kolom (Column)

Berbeda dengan kolom kromatografi klasik, kolom KCKT dapat digunakan kembali (reusable) . Banyak analisis yang bisa dilakukan dengan kolom yang sama sebelum dari jenis sampel yang diinjeksi, kebersihan dari solven dan jenis solven yang digunakan.

Kolom diisi dengan partikel padatan yang berukuran kecil dilapisi secara kimia oleh suatu cairan yang berfungsi sebagai fasa diam. Komponen-komponen sample dibawa oleh cairan fasa gerak yang dialirkan dengan bantuan tekanan tinggi melewati kolom fasa diam. Komponen-komponen dipisahkan berdasarkan partisi antara fasa diam dan fasa gerak yang satu sama lain tidak bercampur.

Efisiensi kolom salah satunya sangat tegantung dari besarnya partikel fase stasioner. Oleh karena itu bila ukuran fase stasioner lebih kecil, maka tinggi plat teoritik akan berkurang, sehingga jumlah plat teoritik akan bertambah, yang meningkatkan efisiensi kolom. Dengan kolom yang pendek dan efisiensi, pemisahan akan berjalan dengan cepat. Terdapat banyak analisis yang dikerjakan pada suhu kamar, suhu kolom sering dapat diatur dengan konstan dengan memakai cara pemanasan. Sering dibutuhkan suhu kolom yang lebih tinggi dari suhu kamar untuk mengatasi masalah daya larut solute yang dianalisis dan viskositas fase gerak yang agak tinggi.

  1. Pengolahan Data (Data Handling)

Hasil dari pemisahan kromatografi biasanya ditampilkan dalam bentuk kromatogram pada rekorder.waktu retensi dan volume retensi dapat diketahui atau dihitung. Ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi secara kualitatif suatu komponen, bila kondisi kerja dapat dikontrol. Lebar puncak dan tinggi puncak sebanding atau proporsional dengan konsentrasi dan dapat digunakan untuk memperoleh hasil secara kuantitatif.

  1. Prinsip Kerja HPLC

Prinsip dasar HPLC (High Performance Liquid Chromatografi) adalah pemisahan senyawa-senyawa berdasarkan kepolaran, dimana terdapat fase mobile (gerak) dan fase stasioner (diam). Fase mobilenya adalah sampel dan eluen yang bercampur, dan fase stasionernya adalah silika gel yang mengandung hidrokarbon. Sehingga senyawa yang memiliki kepolaran yang lebih tinggi akan tertahan pada fase stasioner yang bersifat polar.

Metode pemisahan umum dalam HPLC tergantung sifat polaritas senyawa dalam eluat;

  • Ø Fasa Normal

•Fasa gerak nonpolar

•Fasa diam polar

  • Ø Fasa Terbalik

•Fasa gerak polar

•Fasa diam nonpolar

Resolusi adalah pengukuran secara fisik suatu pemisahan. Resolusi dapat ditingkatkan dengan mengoptimasi parameter-parameter HPLC yaitu retensi,selektifitas, dan efisiensi. Secara praktis parameter-parameter HPLC tersebt dapat dioptimalkan dengan mengubah:

  1. Komposisi dari fase gerak
  2. Laju alir

3. Sifat kimia dari fase gerak

4. Jenis kolom

Metode HPLC dapat digunakan untuk analisa kuantitatif dan sekaligus kualitatif. Untuk analisa kualitatif dengan membandingkan kromatogram sampel dengan kromatogram baku pembanding berdasarkan waktu retensinya.

Sedangkan untuk analisa kuatitatif dapat digunakan dengan persamaan :

Cx = Ax / Ap X Cp

Keterangan :

A = Peak area = Luas puncak

C = Konsentrasi

X = sampel

P = pembanding

Atau jika ingin mendapatkan data yang lebih valid dapat pula ditentukan dengan menggunakan kurva kalibrasi larutan standar.

HPLC yaitu alat yang berfungsi mendorong analit melalui sebuah kolom dari fase diam ( yaitu sebuah tube dengan partikel bulat kecil dengan permukaan kimia tertentu) dengan memompa cairan (fase bergerak) pada tekanan tinggi melalui kolom. Sampel yang akan dianalisis dijadikan dalam volume yang kecil dari fase bergerak dan diubah melalui reaksi kimia oleh fase diam ketika sampel melalui sepanjang kolom. Tujuan penggunaan alat ini adalah mengetahui kadar asam organik.

Waktu saat analit keluar dari ujung kolom disebut waktu retensi dan merupakan suatu karakteristik yang unik dari tiap analit. Penggunaan dari tekanan menaikkan kecepatan linear memberikan lebih sedikit waktu bagi analit untuk berdifusi, dan menghasilkan chromatogram. Pelarut yang banyak digunakan yaitu air dan zat-zat organik seperti metanol.

HPLC ini digunakan untuk asam organik, seperti asam formiat dan asam asetat. Jika sampel mula-mula berbentuk padatan harus di-distruksi dulu kemudian di-treatment sehingga berupa larutan homogen yang tidak terdapat endapan lagi dan bening karena syarat sampel yang dapat dianalisa menggunakan HPLC adalah harus tidak ada endapan dan harus bening.

C.  Penerapan HPLC Dalam Analisis Senyawa (Obat) Dalam Campuran

HPLC sering digunakan antara lain untuk menetapkan kadar senyawa aktif pada obat, produk hasil samping proses sintesis, atau produk- produk degradasi dalam sediaan farmasi. Keterbatasan metode HPLC ini adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali jika HPLC dihubungkan dengan spektometer massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah sampel sangat kompleks maka resolusi yang baik sulit diperoleh.

1. Parasetamol

  • Rumus struktur :

  • Nama Kimia                : 4- Hidroksiasetanilida
  • Rumus Molekul           : C8H9NO2
  • Berat Molekul             : 151,16
  • Pemerian                     : serbuk, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
  • Kelarutan                    : larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol. (Depkes RI, 1995).

Parasetamol atau N-asetil-p-aminofenol atau asetaminofen merupakan derivat para-amino fenol yang berkhasiat sebagai analgesik-antipiretik. Asetaminofen merupakan pengganti yang baik untuk analgesik dan antipiretik aspirin pada penderita dengan keluhan saluran cerna dan pada mereka dengan perpanjangan waktu perdarahan yang tidak menguntungkan. Asetaminofen merupakan analgetik dan antipiretis.

Parasetamol adalah senyawa yang memiliki sifat polar dan gugus kromofor yang dimilikinya menyebabkan senyawa ini dapat menyerap sinar UV. Karakteristik senyawa ini memungkinkan analisis dengan teknik HPLC menggunakan kolom nonpolar seperti C-18 dan fasa gerak polar seperti methanol/ air. Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma. Parasetamol digunakan sebagai analgesic dan antipiretik.

Pengujian kadar parasetamol dalam obat menggunakan teknik HPLC , dalam proses analisisnya HPLC memiliki beberapa tahapan. Diawali dengan menginjeksikan sampel uji yaitu larutan obat yang sebelumnya telah disaring dengan membran PTFE ke dalam kolom HPLC dengan injektor khusus / syringe yang bervolume 20 µL, penyaringan sebelum penginjeksian ini dilakukan agar tidak terjadi penyumbatan didalam kolom dan menghilangkan gas dari pelarutnya. Sampel didorong cepat saat melalui kolom dengan bantuan pompa bertekanan tinggi. Di dalam kolom, komponen- komponen pada sampel dipisahkan berdasarkan pada perbedaan kekuatan interaksi solut terhadap fasa diamnya. Solut yang interaksinya kurang kuat akan keluar lebih lambat dari kolom daripada solut lainnya.  Komponen akan keluar dari kolom dengan kecepatan yang berbeda dan terdeteksi oleh detektor. Detektor yang digunakan adalah detektor UV karena parasetamol merupakan senyawa organik yang dapat menyerap sinar UV. Pengujian ini menggunakan panjang gelombang 243 nm dengan mempertimbangkan panjang gelombang methanol yaitu 205 nm dan air yaitu 190 nm.  Teknik yang dilakukan kali ini merupakan “reverse phase” atau fasa terbalik karena teknik ini menggunakan pelarut polar sebagai fasa gerak sedangkan fasa diamnya menggunakan pelarut non- polar. Penggunaan fasa gerak dan fasa diam yang berbeda kepolarannya ini bertujuan agar sampel uji tidak bereaksi dengan fasa diamnya saat melewati kolom HPLC. Sampel melewati kolom HPLC tentunya memiliki jangka waktu yang terukur dan juga menjadi parameter, waktu yang dibutuhkan sampel untuk melewati kolom ini disebut waktu retensi. Dalam pengujian parasetamol dalam obat, waktu retensi yang terukur adalah antara 2,19 hingga 2,2. Selanjutnya hasil analisis dengan HPLC ini menghasilkan suatu citra berupa kromatogram. Kromatogram ini merupakan grafik antara intensitas komponen yang dibawa oleh fasa gerak terhadap waktu retensi. Seharusnya tampilan kromatogram ini berupa grafik lurus, lancip, dan simetris. Tetapi data yang diperoleh pada percobaan ini sedikit melebar dan tidak simetris tentunya. Ini disebabkan antara lain oleh adanya difusi didalam kolom HPLC, difusi yang terjadi adalah difusi longitudinal dan difusi transfer massa. Difusi longitudinal itu sendiri disebabkan oleh penyebaran komponen yang tidak sama sedangkan difusi transfer massa disebabkan oleh kecepatan komponen yang tidak merata.  Terdapat beberapa parameter pemisahan dalam HPLC, yaitu laju alir eluen yaitu sebesar 0,5 mL/ menit, ketebalan stasioner kolom C-18 yaitu 15 cm, ukuran partikel analit, dan laju difusi yang sudah disebutkan diatas. Parameter- parameter ini dapat menyebabkan kejanggalan dalam pencitraan kromatogram seperti pelebaran pada puncak. Adanya pelebaran puncak pada kromatogram mengindikasikan terjadinya overlapping analit yang belum terpisahkan dalam kolom. Semakin tinggi laju difusinya maka komponen dalam sampel akan semakin sulit dipisahkan secara efisien.   Dari grafik luas area terhadap konsentrasi (ppm) dapat dihitung kadar parasetamol dalam sampel obat. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa dari sampel obat sebanyak 12,5 mg diperoleh kadar parasetamol sebesar 83,444 % sedangkan dari massa rata-rata tablet obat sebesar 738,2 mg diperoleh massa parasetamol pada tiap tablet obat sebesar 615,9836 mg. Dapat disimpulkan bahwa kadar parasetamol dalam tablet obat adalah sebesar 615,98 mg per tabletnya.

2. Kafein

Rumus struktur :

 

  • Nama Kimia           : 1,3,7-Trimetil xantin
  • Rumus Molekul      : C8H10N4O2
  • Berat Molekul         : 194,19
  • Pemerian                 : serbuk putih atau bentuk jarum mengkilat putih,biasanya

menggumpal, tidak berbau, rasa pahit.

  • Kelarutan                : Agak sukar larut dalam air, dalam etanol, mudah larut dalam

kloroform, sukar larut dalam eter. (Depkes RI, 1995).

Dalam penetapan kandungan kafein digunakan sampel berupa minuman berkafein.  HPLC yang digunakan adalh jenis HPLC Series 200 dengan detector 275 nm Perkin Elmer, Kolom : Supelcosil LC : 18, ( 25 cm X 4,6mm, 5 μm ).  Menggunakan asam asetat 70% dan methanol 30% sebagai fasa gerak.  Proses pengerjaan terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap preparasi dan tahap injection ke HPLC.

 

ANALISIS KUANTITATIF

Metoda Persentase Tinggi / Lebar Puncak

Metoda ini disebut juga Metoda Normalisasi Internal. Untuk analisis kuantitatif diasumsikan bahwa lebar atau tinggi Puncak (Peak) sebanding (proportional) dengan kadar / konsentrasi zat yang menghasil puncak. Dalam metoda yang paling sederhana diukur lebar atau tinggi Puncak, yang kemudian dinormalisasi (ini berarti bahwa setiap lebar atau tinggi Puncak diekspresikan sebagai suatu persentase dari total). Hasil normalisasi dari lebar atau tinggi puncak memberikan komposisi dari campuran yang dianalisis, seperti contoh pada Tabel berikut:

No Peak area
Kafein standar Kafein dalam sampel
1 2601417,40 2216635,31

 

Berdasarkan data table diatas, maka kadar kafein dalam sampel ( teh poci )

dapat dianalisis dengan mengunakan persamaan :

 

Cx = Ax / Ap X Cp

= x 200 ppm

= 170,42 ppm

Maka dalam 1 mL sampel yang diuji terdapat 0,17042 mg kafein.

 

Ada dua masalah dengan pendekatan ini, yaitu:

Kita harus yakin bahwa kita telah menghitung semua komponen, yang tiap-tiap komponen muncul sebagai suatu puncak yang terpisah pada kromatogram.  Komponen-komponen dapat berkoelusi, atau ditahan di dalam kolom, atau, terelusi tanpa terdeteksi. Kita harus mengasumsi bahwa kita memperoleh respons detektor yang sama untuk setiap komponen Untuk mengatasi kesulitan ini, maka kalibrasi detektor diperlukan.

Kofein berkhasiat menstimulasi SSP, dengan efek menghilangkan rasa letih, lapar dan mengantuk, juga daya konsentrasi dan kecepatan reaksi dipertinggi, prestasi otak dan suasana jiwa diperbaiki. Kofein juga memperkuat kontraksi jantung, vasodilatasi perifer dan diuretis. Kofein digunakan sebagai penyegar. Zat ini sering dikombinasikan dengan Parasetamol atau asetosal untuk memperkuat efek analgetisnya.

Kafein dosis sedang menyebabkan insomnia, ansietas dan agitasi. Dosis tinggi diperlukan untuk memperlihatkan toksisitas berupa muntah dan konvulsi.  Dosis letal sekitar 10 g (kira-kira 100 cangkir kopi) yang menimbulkan aritmia jantung. Kematian karena kafein sangat tidak mungkin. Letargi, iritabel dan sakit kepala terjadi pada pengguna yang secara rutin minumg lebih dari 600 mg kopi per hari ( sekitar 6 cangkir kopi per hari) dan mendadak berhenti. (Mycek, 2001).

  1. Kelebihan Dan Kekurangan Metode Analisis Dengan HPLC
    1. 1. Kelebihan
  • Ø Kerja lebih mudah dengan automatisasi dalam prosedur analisis dan pengolahan data
  • Ø Volume sampel kecil
  • Ø Daya pisah tinggi
  • Ø Merupakan metode analitis:

-          Cepat

-          Peka

-          Akurat

-          Tepat

-          Reproducible

-          JugaPreparatif

  • Ø Dapat digunakan untuk analisis sampel organic dan anorganik, bersifat volatile dan non-volatil, stabil dan tidak stabil secara thermal.
  • Ø Pilihan fasa diam dan fasa geraknya luas
  1. 2. Kekurangan
  • Ø Larutan harus dicari fase diamnya terlebih dahulu
  • Ø Hanya bisa digunakan untuk asam organic
  • Ø Harus mengetahui kombinasi yang optimum antara pelarut, analit, dan gradient elusi
  • Ø Harganya mahal sehingga penggunaannya dalam lingkup penelitian yang terbatas

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

  1. Komponen utama dari HPLC yaitu, pompa, injector, elusi gradient, kolom, detector, pengolahan data.
  2. Prinsip dasar HPLC (High Performance Liquid Chromatografi) adalah pemisahan senyawa-senyawa berdasarkan kepolaran, dimana terdapat fase mobile (gerak) dan fase stasioner (diam). Fase mobilenya adalah sampel dan eluen yang bercampur, dan fase stasionernya adalah silika gel yang mengandung hidrokarbon. Sehingga senyawa yang memiliki kepolaran yang lebih tinggi akan tertahan pada fase stasioner yang bersifat polar.
  3. HPLC sering digunakan antara lain untuk menetapkan kadar senyawa aktif pada obat, produk hasil samping proses sintesis, atau produk- produk degradasi dalam sediaan farmasi.  Contohnya adalah menganalisis parasetamol dan kafein dalam suatu campuran.
  4. HPLC sebagai suatu metode pemisahan memiliki beberapa keuntungan yaitu menghasilkan pemisahan yang sangat cepat, dapat memisahkan zat-zat yang tidak mudah menguap ataupun tak tahan panas, banyak pilihan fasa geraknya, mudah untuk mendapatkan kembali cuplikan, karena detector pada KCKT tidak merusak komponen zat yang dianalisis, dan dapat dirangkai dengan instrumen lain untuk meningkatkan efisiensi pemisahan.  Sedangkan kekurangannya adalah larutan harus dicari fase diamnya terlebih dahulu, hanya bisa digunakan untuk asam organic, harus mengetahui kombinasi yang optimum antara pelarut, analit, dan gradient elusi, harganya mahal sehingga penggunaannya dalam lingkup penelitian yang terbatas

 

 

215 nm

rentang Linear penentuan parasetamol, eine ca dan dipyrone adalah 0,409-400 g / ml, 0,151-200 g / ml dan ,233-600 g / ml

Parasetamol (20,00 mg), ca eine (10,00 mg) dan dipyrone (15,00 mg) secara akurat ditimbang dalam labu volumetrik 10 ml dan dilarutkan dalam fase gerak dan lled sampai volume dengan fase gerak.

diperoleh senyawa antara daerah puncak dan konsentrasi 25-400 g / ml dengan r2 = 0,9987, 12,5-200 g / ml dengan r2 = 0,9999 dan 37,5-600 g / ml dengan r2 = 0 9.993 untuk parasetamol, eine ca dan dipyrone, masing-masing.

Tekanan pompa yang besar dibutuhkan untuk partikel yang sangat kecil, dan sekarang ada

Asetaminofen dosis besar menyebabkan persediaan glutation di hati berkurang

dan N-asetil-benzokuinoneimin bereaksi dengan grup sulfihidril protein hati,

membentuk ikatan kovalen. Dapat terjadi nekrosis hati, suatu kondisi yang sangat

serius dan berpotensi mengancam kehidupan. mengandung tidak lebih dari 110% dan tidak

kurang dari 90% dari jumlah yang tertera pada label Parasetamol dan Kofein.

 

 

Asetosal yang mempunyai daya kerja analgenik, antipiretik dan antiradang merupakan obat yang telah lama digunakan dan semula dimaksudkan sebagai obat antipiretik pengganti kina.

Berbeda dengan obat-obat golongan opium/narkotik dan turunanya yang digunakan sebagai obat analgenetik, asetosal tidak mempengaruhi fungsi mental dan diperkirakan bekerja pada sistem saraf pusat di bagian subkorteks. Asetosal diperkirakan mencegah sintesis dan pelepasan prostaglandin pada tempat reseptor rasa sakit. Kemampuan mencegah sintesis prostaglandin, menyebabkan asetosal selain mempunyai daya kerja analgenik juga mempunyai daya kerja antipiretik dan antiradang. Asetosal juga mempunyai kecenderungan mengurangi daya beku darah, sehingga digunakan juga sebagai obat antikoagulan, antitrombotik, dan fibrinolitik.

Daya keja antiradang asetosal, yang mampu mengurangi bengkak dan penggumpalan darah di bagian tubuh tertentu, menyebabkan asetosal banyak juga digunakan untuk mengatasi penyakit artritis.

Efek samping asetosal yang tidak dikehendaki, antara lain menyebabkan pendarahan dan tukak lambung. Hal ini disebabkan oleh iritasi pada selaput mukosa, selain pencegahan sintesis prostaglandin yang dapat menghentikan sekresi asam lambung, mengakibatkan pendarahan.

Asetosal juga dapat menyebabkan serangan asma akut pada penderita alergi. Dengan demikian, bagi penderita asma alergi, sangat peka dan rawan terhadap asetosal. Sehubungan dengan pencegahansintesis prostaglandin, efek lain dapat merangsang kontraksi rahim sehingga akan menyebabkan komplikasi dan perpanjangan waktu persalinan. Mengingat efek samping pada lambung, untukobat-obat yang mengandung asetosal sebaiknya diminum setelah makan, dengan segalas air putih.

Sedangkan nama lain dari piramidon adalah amidopirin, aminopirin. Piramidon ini sanga t berkasiat untuk melawan demam yang tinggi dan radang. Dan nama lain antalgin ialah antalgin, dipiron, sangat berkhasiat sebagai analgenik dan spesmolitik (melawan kejang), maka sering digunakan untuk nmengobati (mengurangi) rasa sakit pada haid, sakit kepala, sakit encok dan lain-lain.

 

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: